🏐 Lingkungan Di Sekitar Kita Adalah Amanah Allah Yang Harus

kalomenurut saya, kita diciptakan pastinya sudah ada tujuannya, maka seharusnya ada kesamaan dalam tujuan, sehingga memiliki tugas/amanah dan fungsi di bumi. hanya saja setiap orang banyak yg terpengaruh oleh lingkungan atau orang-orang sekitar, padahal kita sudah dibekali akal untuk mempelajari satu pedoman yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pendukung. Memberikanberbagai peralatan belajar adalah salah satu cara yang kita lakukan, contohnya adalah memberikan buku tulis, peralatan tulis, peralatan menggambar, meja, dan lain sebagainya. Dijamin anak-anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sangat senang menerima fasilitas yang diberikan dan bisa lebih semangat dalam belajar. Kitajuga harus memberi tahu kepada anak-anak kita ihwal akhlaq yang buruk. Diharapkan dengan pengetahuan itu anak-anak bisa menghindar dari hal tersebut. Sifat yang jelek itu seperti ghibah atau ngerumpi, yakni membicarakan keburukan-keburukan saudaranya sesama mualim dan orang yang dibicarakan itu tidak ada di hadapannya. Untukmelaksanakan solat dengan benar kita harus mengetahui gerakan-gerakan solat. Berikut ini gerakan-gerakan dalam solat : Berdiri tegak,takbiratulihrom, bersedekap, rukuk, iktidal, kunut, sujud, duduk diantara dua sujud, duduk tasyahud awal, duduk tasyhud akhir, salam. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam solat adalah : 1. Seemore of Hindari MAKSIAT! Nikmatnya Sesaat, Penyesalannya Sepanjang Hayat. on Facebook MemahamiAllah yang Maha mengatur kehidupan alam semestaKeteraturan yang ditata dengan baik dan sempurna adalah karenaAllah yang telah mengatur kehidupan dan segala di alam semesta ini. Suratyang ada dalam Al-An'aam disebutkan " Segala puji bagi Allah yang telahmenciptakan langit dan bumi dan membuat gelap dan terang". Adapunakhlak manusia terhadap alam yang wajib dilaksanakan adalah sebagai berikut. 1. Memerhatikan dan merenungkan penciptaan alam. Allah berfirman : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Alamini adalah amanah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Manusia harus mengembalikan amanah itu dengan baik. Manusia tidak boleh berbuat zalim kepada alam. Kelima asas di atas hendaknya dicamkan manusia dalam mengelola alam. Namun sayangnya, kondisi lingkungan hidup di hampir seluruh negara di dunia berada dalam keadaan memprihatinkan. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah 2:261) Beliaubersabda, 'Ya'," (HR. Ahmad). Wal Hasil inilah urgensi Isoman (uzlah) di akhir zaman yang harus dijalankan oleh setiap orang beriman demi menyelamatkan agama mereka dari paparan virus yang bisa merusakkan akidah. Jikalau mayoritas manusia (Ahlus Zaman) bisa sangat patuh kepada petunjuk para pakar kesehatan atau lembaga kesehatan Alamini juga dapat berfungsi sebagai ujian bagi manusia (Q.S. Hud 7, Al Mulk 2). Alam ini harus dijaga, dipelihara dan dimanfaatkan untuk keperluan manusia sebanyak banyaknya. Manusia sebagai Khalifah di bumi (Q.S. Al An'am 156) dengan berbagai tingkatannya mempunyai kewajiban untuk menjaga, memelihara, menyelamatkan dan mengembangkannya. Jakarta 28 Sya'ban 1438/25 Mei 2017 (MINA) - Anggota Dewan Kehormatan Pengurus Pusat ICMI Dr. Ir. Muslim Nasution APU menilai keberadaan hutan yang merupakan anugerah dan amanah dari Allah SWT 64uN6. Aku Anak SalihPerilaku Terpuji Amanah, Santun dan Menghargai Teman Kompetensi Dasar Memahami makna perilaku amanah clalam kehidupan seharihari Mencontohkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari Memahami sikap santun dan menghargai teman, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat sekitar Mencontohkan sikap santun dan menghargai teman, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat sekitar Tujuan Pembelajaran Melalui pembelajaran jarak jauh peserta didik dapat 1. Menjelaskan pengertian amanah dengan benar 2. Menjelaskan contoh perilaku amanah dengan benar 3. Menampilkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari dengan benar 4. Menjelaskan pengertian santun dengan benar 5. Menjelaskan contoh perilaku santun di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar 6. Menampilkan perilaku santun di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar 7. Menjelaskan pengertian menghargai teman dengan benar 8. Menjelaskan contoh perilaku menghargai teman di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar 9. Menampilkan perilaku menghargai teman di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar Materi Pokok Amanah, santun, dan menghargai teman Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal 1. Salam dan Doa 2. Mari Tadarus 3. Mari kita lakukan protokol kesehatan Kegiatan IntiAmati tayangan berikut! Bagaimana menurut pendapatmu tentang tayangan diatas?Apa yang dimaksud amanah?Apa saja perilaku yang termasuk amanah?Bagaimana bersikap santun dan menghargai teman? Ayo pahami! A. Perilaku Amanah Pengertian Amanah Amanah adalah sikap jujur atau dapat di percaya. Amanah dapat diartikan dengan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah merupakan titipan. Amanah merupakan lawan dari khianat. Sikap amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dilindungi, dijaga, dan dilaksanakan. Jadi Amanah adalah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang atau kepercayaan terhadap seseorang untuk dilaksanakan. Macam-macam Amanah 1. Amanah terhadap Allah Swt., yaitu dengan menjalani semua perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya. 2. Amanah terhadap sesama manusia, yaitu ketika di titipi pesan atau barang maka kita harus menyampaikan kepada yang berhak 3. Amanah terhadap diri sendiri, yaitu dengan menggunakan segenap anggota badan dan kemampuan demi menjaga kelangsungan hidup Contoh Perilaku Amanah Berikut ini beberapa contoh amanah dalam kehidupan sehari-hari 1. Menjaga titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula. Apabila kita dititipi sesuatu oleh orang lain, misalnya barang berharga, emas, rumah, atau barang-barang lainnya, maka kita harus menjaganya dengan baik. Pada saat barang titipan tersebut diambil oleh pemiliknya, kita harus mengembalikannya seperti semula. 2. Menjaga rahasia. Apabila kita dipercaya untuk menjaga rahasia, baik itu rahasia pribadi, rahasia keluarga, rahasia organisasi, atau rahasia negara, maka kita wajib menjaganya supaya tidak bocor kepada orang lain. 3. Tidak menyalahgunakan jabatan. Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Apabila kita diberi jabatan apapun bentuknya, maka kita harus menjaga amanah tersebut. menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok termasuk perbuatan yang melanggar amanah. 4. Memelihara semua nikmat dari Allah Swt. Nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. berupa umur, kesehatan, harta benda, ilmu, dan sebagainya. Semua nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada umat manusia adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Nabi Muhammad Saw memberi contoh saat berdagang ke Syam bersama pamannya. Dalam berdagang, beliau selalu bersikap amanah terpercaya. Barang dagangan yang dititipkan kepadanya dijaga dengan baik. Mengingat sikapnya itu, beliau mendapatkan gelar al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Sebagai umat Nabi Muhammad Saw., kita harus meneladani perilakunya, misalnya 1. rajin belajar; 2. menjaga nama baik orang tua kita; 3. mengerjakan tugas sekolah; 4. menjaga nama baik guru dan sekolah. 5. menjaga diri dengan baik 6. menjaga hak orang lain Manfaat Berperilaku Amanah Orang yang berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya ia telah berbuat baik kepada diri sendiri. Begitu juga sikap amanah memiliki dampak yang baik bagi diri sendiri. Di antara hikmah berperilaku amanah sebagai berikut 1. Dipercaya orang lain, 2. Mendapatkan simpati dari orang lain 3. Menjalani hidup akan berhasil dan dimudahkan oleh Allah Swt. Ayo simak tayangan berikut! B. Perilaku Santun Amati tayangan berikut!Apa pendapatmu tentang perilaku pada tayangan tersebut?Ayo baca materi berikut!Pengertian Santun Santun adalah berkata lemah lembut serta bertingkah laku halus dan baik. Perilaku santun seseorang akan terlihat dari ucapan dan tingkah lakunya. Ucapannya lemah-lembut, tingkah lakunya halus serta menjaga perasaan orang lain. Santun mencakup dua hal, yaitui santun dalam ucapan dan santun dalam perbuatan. Sopan santun menjadi sangat penting dalam pergaulan hidup sehari hari. Kita akan dihargai dan dihormati orang lain jika menunjukkan sikap sopan santun. Orang lain merasa nyaman dengan kehadiran kita. Sebaliknya, jika berperilaku tidak sopan, maka orang lain tak akan menghargai dan menghormati kita. Orang santun biasanya sabar, tenang, sopan, penuh rasa belas kasihan dan suka menolong. Sedangkan, menghargai berarti menghormati, mengindahkan, dan memandang penting kepada orang lain. Orang yang tidak menghargai berarti orang yang meremehkan atau tidak peduli terhadap orang lain. Perhatikan firman Allah berikut! “Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang al-Qur'an kepada hambaNya Muhammad untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sungguh, terhadap kamu Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang.” al-Hadid/ 57 9. Contoh perilaku Santun Contoh sikap santun yang harus kita lakukan saat di sekolah adalah 1. Menyapa guru saat bertemu 2. Mengucap dan memberi salam pada guru 3. Menghormati bapak dan ibu guru 4. Menggunakan seragam yang rapi dan sesuai aturan 5. Berkata lembut terhadap teman, guru maupun karyawan Contoh sikap santun yang harus kita lakukan saat di rumah adalah 1. Meminta izin kepada orang tuanya saat hendak bepergian keluar rumah 2. Menggunakan kata-kata yang baik dan menghindari penggunaan kata-kata kasar 3. Saling mengucapkan salam saat hendak bepergian 4. Saling berbagi apapun kepada sesama saudara 5. Membantu orang tua mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga Contoh sikap santun yang harus kita lakukan saat di masyarakat adalah 1. Mengikuti kegiatan kerja bakti pembersihan lingkungan 2. Saling berbagi dan saling membantu sesama tetangga 3. Saling menyapa dengan tetangga 4. Menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan Tidak meludah di sembarang tempat. Manfaat bersikap santun Adapun manfaat perilaku santun sebagai berikut ; 1. Dihargai dan di hormati orang lain 2. Rasa tenteram dan damai 3. Mendatangkan rasa bahagia 4. Dapat menjaga hubungan baik dengan orang yang ada di sekitar kita 5. Dipandang sebagai orang yang mempunyai perilaku baik C. Perilaku Menghargai Teman Ayo simak tayangan dibawah ini! Apakah memafkan teman termasuk cara menghargai teman? cara menghargai teman? Ayo pahami materi berikut!Pengertian Menghargai Teman Menghargai teman adalah sikap menghormati seorang dan memberi kesempatan kepada orang lain. Orang yang tidak menghargai berarti orang yang meremehkan atau tidak peduli terhadap orang lain. Contoh perilaku menghargai teman. Perilaku menghargai teman dapat diwujudkan dengan 1. Berteman tanpa pilih kasih. Bersahabat dan bermain dengan siapa saja, tidak memandang kedudukan orang tersebut. 2. Tidak mencela dengan perkataan yang buruk. 3. Rendah hati dan bisa menerima dengan hati yang tulus atas kerja temanmu. 4. Mengucapkan “terimakasih” kepada teman yang telah membantu. 5. Mengucapkan “minta maaf” kepada teman jika kita bersalah atau menyinggung perasaan dan sebagainya. 6. Tidak mengambil hak orang lain dan menguasainya dengan cara mencuri, merampas, atau berdusta. 7. Memberikan ucapan selamat, sanjungan dan pujian secara langsung kepada teman yang berprestasi. Ayo simak tayangan berikut! Kegiatan Penutup Mari membuat kesimpulan 1. Amanah adalah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang atau kepercayaan terhadap seseorang untuk dilaksanakan. 2. Contoh perilaku amanah Menjaga titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula, menjaga rahasia, tidak menyalahgunakan jabatan, memelihara semua nikmat dari Allah Swt. 4. Manfaat berperilaku amanah akan dipercaya orang lain, mendapatkan simpati dari orang lain, menjalani hidup akan berhasil dan dimudahkan oleh Allah Swt. 3. Santun adalah berkata lemah lembut serta bertingkah laku halus dan baik. 4. Contoh perilaku santun di sekolah menyapa guru saat bertemu dengan guru, mengucap dan memberi salam pada guru, menyayangi teman-teman, berkata lembut terhadap teman, guru maupun karyawan. 5. Contoh sikap santun di rumah adalah meminta izin kepada orang tuanya saat hendak bepergian keluar rumah, saling membantu mengerjakan pekerjaan rumah, menggunakan kata-kata yang baik dan menghindari penggunaan kata-kata kasar. 6. Contoh santun di masyarakat mengikuti kegiatan kerja bakti pembersihan lingkungan, saling berbagi dan saling membantu sesama tetangga, menjaga ketertiban lingkungan, tidak meludah di sembarang tempat. 7. Manfaat berperilaku santun Dihargai dan di hormati orang lain, akan merasa tenteram dan damai, mendatangkan rasa bahagia 8. Menghargai teman adalah sikap menghormati seorang dan memberi kesempatan kepada orang lain. 9. Contoh perilaku menghargai teman berteman tanpa pilih kasih. tidak mencela dengan perkataan yang buruk, mengucapkan “minta maaf” kepada teman jika kita bersalah atau menyinggung perasaan. Jangan lupa uji kemampuan kalian dengan menjawab beberapa pertanyaan. Demikian pembelajaran kali ini, kita ucap “Alhamdulillah” Penilaian Jawablah pertanyaan berikut! 1. Jelaskan pengertian Amanah! 2. Sebutkan 3 macam amanah! 3. Sebutkan 3 contoh perbuatan yang termasuk amanah! 4. Jelaskan manfaat bersikap amanah! 5. Apakah yang dimaksud santun? 6. Jelaskan 3 contoh santun di sekolah! 7. Sebutkan 3 contoh santun di masyarakat! 8. Jelaskan manfaat bersikap santun! 9. Jelaskan arti menghargai teman! 10. Sebutkan 3 contoh perbuatan yang termasuk menghargai teman! Agama Islam memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan alam dengan cara yang baik ihsan dan menjadi manusia bertanggung jawab dalam melindungi alam dan lingkungan serta larangan merusaknya. Manusia sebagai khalifah Allah salah satu tugasnya membuat bumi ini makmur. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia. Dalam Islam, hak mengelola alam tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk memelihara kelestariannya. Banyaknya ayat al-Qur’an yang membicarakan larangan merusak bumi mengindikasikan kewajiban umat Islam untuk memelihara kelestarian dan keasrian bumi. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free P-ISSN 2442-9910 E-ISSN 2548-642X S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 DOI LINGKUNGAN DAN ALAM DALAM AL-QUR’AN Ahmadiy Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Sains Al-Qur’an ahmadiy 08112957544 Dikirimkan 18/02/2019 Diterima 20/04/2019 Dipublikasikan18/05/2019 Abstrak Agama Islam memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan alam dengan cara yang baik ihsan dan menjadi manusia bertanggung jawab dalam melindungi alam dan lingkungan serta larangan merusaknya. Manusia sebagai khalifah Allah salah satu tugasnya membuat bumi ini makmur. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia. Dalam Islam, hak mengelola alam tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk memelihara kelestariannya. Banyaknya ayat al-Qur’an yang membicarakan larangan merusak bumi mengindikasikan kewajiban umat Islam untuk memelihara kelestarian dan keasrian bumi. Kata kunci al-Qur’an, Manusia, Lingkungan, Alam. PENDAHULUAN Jagat raya seisinya adalah ciptaan Allah, karenanya disebut sebagai makhluk Allah. Manusia, bumi, langit, dan lainnya adalah bagian dari alam. Walaupun demikian, manusia merupakan makhluk mulia. Allah menciptakan manusia tidak hanya berbeda dengan makhluk lain, tetapi juga memberikan kelebihan yang tidak diberikan kepada yang lainnya. Allah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.       Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. QS. al-Thin 4 Sebagai makhluk mulia yang dianugerahi akal, maka manusia dapat berpikir, memilih dan memilah yang benar dan yang salah, memilih yang baik dan yang buruk, dan dengan akal manusia dapat mengembangkan kehidupannya. Manusia tidak boleh menimbulkan kerusakan terhadap alam dan lingkungan, bahkan harus memelihara alam dan lingkungannya.                Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. QS. al-Rum 41 Timbulnya kerusakan alam atau lingkungan hidup akibat perbuatan manusia, karena manusia yang diberi tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Manusia mempunyai daya inisiatif, kreatif, sedangkan makhluk S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 100 lainnya tidak memiliki. Sejak awal Allah memperingatkan akan adanya akibat ulah tangan manusia. Kerusakan yang terjadi sebagai akibat keserakahan manusia, disebabkan manusia memperturutkan hawa nafsunya dan tidak mentaati tuntunan dan ajaran Allah [1].          Jika kamu hai para muslimin tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. QS. al-Anfal 73 METODE Penelitian ini termasuk dalam penelitian pustaka, karena sumber data yang menjadi rujukan baik itu yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pokok bahasan berasal dari sumber-sumber tertulis, seperti dalam bentuk kitab, buku, majalah, jurnal, dan lainnya. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, menggambarkan dan menguraikan sesuatu hal menurut apa adanya, kemudian dianalisis. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Memelihara Alam dan Lingkungan Alam adalah segala apa saja yang bukan Allah. Yang ada itu hanya dua, yaitu alam dan Allah. Alam ialah yang diciptakan makhluk, sedang Allah ialah pencipta khalik. Maka dalam al-Qur’an, Allah bergelar “rabbul alamin” tuhan alam semesta. Dalam menerangkan alam semesta, selain kata alamin, al-Qur’an sering juga menggunakan kalimat “assamawat wal ardh” semua langit dan bumi, atau al-Qur’an menyebut dengan kalimat segala apa yang ada di langit dan di bumi. Alam semesta diciptakan Allah menurut hukum yang pasti, objektif dan tetap. Artinya, alam semesta adalah satu kosmos yang dalam bahasa ilmu suatu laws of nature, dalam Islam disebut sunnatullah. Sebagaimana alam semesta demikian pula seluruh isinya termasuk manusia telah terikat dan berada dalam suatu hukum serba tetap. Hukum serba tetap yang mengatur alam sesungguhnya adalah hukum Allah sunnatullah. Dan dia Allah telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya QS. al-Furqan 2 [2]. Allah menegaskan, bahwa segala yang telah diciptakannya berjalan secara teratur, tidak terdapat suatu kekacauan dan cacat. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan tuhan yang maha pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? QS. al-Mulk 3. Kepatuhan alam semesta terhadap sunnatullah, termasuk manusia adalah untuk kesejahteraan. Apabila kepatuhan alam semesta dan manusia terhadap sunnatullah untuk tujuan kesejahteraan, maka sebaliknya pelanggaran terhadap sunnatullah membawa kerugian dan kebinasaan [2]. Masalah lingkungan menjadi salah satu pembahasan yang paling utama dan signifikan untuk didiskusikan. Karena manusia dihadapkan pada serangkaian masalah global yang membahayakan biosfer dan kehidupan umat manusia dalam bentuk yang sangat mengejutkan yang dalam waktu relatif singkat akan menjadi fenomena yang tak dapat dikembalikan lagi, sehingga secara cepat kehancuran bumi alam akan terjadi. S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 101 Para ilmuwan mengatakan bahwa manusia dalam tahap sejarah bumi, benar-benar telah menjadi kekuatan utama global. Sejumlah ilmuwan terkemuka juga prihatin karena manusia terlalu berhasil dalam mengancam keseimbangan ekosistem bumi dan mengancam keberlangsungan hidup masa depan manusia sendiri sebagai sebuah species [3]. Lingkungan adalah semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan, sedangkan lingkungan alam adalah keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang berada disekeliling makhluk hidup yang mempunyai pengaruh timbal balik terhadap makhluk hidup tersebut. Masalah lingkungan hidup mulai bergema pada tahun 1968 ketika diangkat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB karena ditemukan kasus-kasus pencemaran lingkungan, antar lain, berupa kabut asap yang mengganggu pernapasan di Los Angeles dan New York, Amerika Serikat, kematian massal burung pemakan ikan dibeberapa kawasan eropa, yang ternyata diakibatkan oleh kadar pestisida yang tinggi dalam tubuh burung-burung, serta beberapa peristiwa pencemaran lain di Jepang. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar QS. ar-Rum 41. Nilai-nilai moral masyarakat sudah menyesatkan. Prinsip moral ini yang merupakan hasil dari hasrat mementingkan diri sendiri serta keserakahan masyarakat, kemudian berubah menjadi keegoisan, kesombongan, kesinisan, kekerasan, dan kebrutalan dalam masyarakat. Masyarakat percaya bahwa untuk meningkatkan standar hidup, mereka harus mencurangi dan mengalahkan yang lainnya. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa orang yang ingkar kepada Allah adalah orang yang tidak mengenal ataupun menyadari adanya tanda-tanda ayat-ayat Allah. Yang membedakan seorang muslim adalah kemampuannya untuk melihat tanda-tanda Allah dan bukti-buktinya. Seorang muslim tahu bahwa semua ini tidak diciptakan dengan sia-sia dan seorang muslim dapat menyadari kekuatan serta keagungan seni Allah dimana pun dan mengetahui cara memujanya. Dialah seorang muslim yang termasuk orang yang berakal. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; Zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang memikirkan. QS. al-Nahl 11 [3]. Istilah lingkungan sebagai ungkapan singkat dari lingkungan hidup yang juga sering digunakan istilah lain yang semakna seperti dunia, alam semesta, planet bumi dan lainnya, merupakan pengalihan dari istilah asing environment Inggris, levironment Perancis, umwelt Jerman, milliu Belanda, alam sekitar Malaysia, sivat-lom Thailand, al-bi’ah Arab, dan lain-lain. Kemudian ilmu yang mengkaji tentang lingkungan hidup disebut ekologi. Kata ekologi berasal dari bahasa Yunani, oikos yang berarti rumah tangga dan kata logos yang berarti ilmu. Oleh karena itu, secara etimologis ekologi artinya ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk hidup dirumah termasuk proses dan pelaksanaan fungsi dan hubungan antar komponen secara keseluruhan. Sedangkan S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 102 secara terminologis ekologi artinya ilmu yang mengkaji tentang proses perhubungan antara kedua belah pihak interrelasi dan saling ketergantungan interdependensi antar organisme dalam satu wadah lingkungan tertentu secara keseluruhan. Problem lingkungan yang sudah setua umur dunia memang sangat kompleks, akan tetapi jika diteliti secara seksama sebenarnya bersumber pada lima aspek yaitu Pertama, aspek dinamika kependudukan. Kedua, eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan. Ketiga, pertumbuhan ekonomi. Keempat, perkembangan sains dan teknologi, dan benturan terhadap lingkungan. Kelima, persoalan tersebut saling kait mengkait satu dengan lainnya sehingga menjadi problem serius [4]. Secara personal individual, manusia sebagai citranya, dipanggil untuk memasuki relasi cinta personal dengan Allah. Oleh karena itu, arah dan tujuan hidup manusia sepenuhnya merupakan jawaban konkrit terhadap tuntutan cinta kasih Allah, yaitu dengan cara mencintainya sepenuhnya. Sedangkan secara sosial komunal bersama atau umum manusia sebagai citra Allah dijabarkan dalam faham egalitarian [5]. Manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang mampu memasuki relasi inter personal. Oleh karena itu, cinta kasih, keterbukaan dan keadilan harus diwujudkan oleh manusia dalam kehidupan sosial komunalnya, agar keluhuran martabat manusia tidak luntur. Adapun pemahaman secara kosmis alam semesta ekologis, manusia sebagai gambaran image dei adalah percaya bahwa manusia dipanggil oleh Allah untuk ikut serta dalam memelihara keutuhan ciptaan. Tanpa pemeliharaan ini hidup manusia terancam, sebab manusia hakikatnya merupakan bagian integral dari ciptaan itu sendiri. Dengan demikian, manusia bertindak secara kreatif dalam upaya transformasi, rekonstruksi dan konservasi alam semesta. Dalam pemahaman kosmis ekologis lebih lanjut Allah digambarkan sebagai simbol “Ibu Alam Semesta”. Sebagai ibu alam semesta, Allah mengungkapkan kasih sayang yang kreatif. Allah memelihara alam semesta dengan penuh kasih dan tulus ikhlas, sebab Allah telah melahirkan alam semesta. Rumusan demikian dirancang bangun oleh penggagas eco feminism. Dibalik simbolisasi Allah sebagai ibu alam semesta Fransisco Aseisi merumuskan sistem keyakinan bahwa matahari dan bumi serta makhluk lain dalam alam semesta merupakan saudara dan saudari manusia sekaligus sebagai lambang kehadirannya [4]. B. Tinjauan Umum Ayat al-Qur’an Tentang Lingkungan dan Alam Term yang digunakan oleh al-Qur’an untuk memperkenalkan istilah lingkungan sebagai ruang kehidupan adalah kata al-bi’ah. Kata al-bia’ah merupakan derivasi dari kata ba’a-yabi’u-bi’atan, yang berarti kembali, menempati wilayah, ruang kehidupan, dan lingkungan. Secara faktual, yang digunakan oleh al-Qur’an adalah kata derivan al-bi’ah bukan kata al-bi’ah itu sendiri. Meskipun demikian, tidak mengurangi komitmen al-Qur’an pada lingkungan, sebab makna substansial yang terkandung dalam ayat-ayat terkait cukup mendukung. Secara kuantitatif, kata ba’a dan derivasinya digunakan dalam al-Qur’an sebanyak 18 kali tersebar dalam 15 ayat [4]. Derivasi kata al-bi’ah yang berkonotasi lingkungan sebagai ruang kehidupan antara lain terdapat dalam al-Qur’an 1. QS. al-A’raf 74 S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 103           Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. 2. QS. Yunus 93       Dan Sesungguhnya kami Telah menempatkan Bani Israil di ternpat kediaman yang bagus. 3. QS. Yusuf 56      Dia berkuasa penuh pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. 4. QS. al-Nahl 41             Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. 5. QS. al-Ankabut 58        Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga. Berdasarkan data penggunaan arti derivasi kata al-bi’ah dalam al-Qur’an seperti terungkap di atas, tampak berkonotasi pada lingkungan sebagai ruang kehidupan [6] khususnya bagi spesies manusia. Penggunaan konotasi derivasi kata al-bi’ah atau lingkungan sebagai ruang kehidupan tampak pararel dengan tradisi ekologi yang lazim memahami bahwa lingkungan merupakan segala sesuatu diluar suatu organisme. Segala sesuatu diluar organisme adalah identik dengan ruang kehidupan. Dengan demikian, ketika al-Qur’an memperkenalkan lingkungan dengan term ruang kehidupan, al-bi’ah, dapat dikatakan bahwa secara faktual al-Qur’an hadir jauh sebelum teori ekologi modern muncul, namun rumusan pengungkapan term lingkungan dengan menggunakan istilah ruang kehidupan, al-bi’ah, ternyata memiliki pijakan mapan selaras dengan teori ekologi modern. Bertitik tolak dari uraian tentang term yang digunakan oleh al-Qur’an untuk memperkenalkan konsep lingkungan dengan term seluruh spesies, al-alamin jagad raya, al-sama’ ruang tempat, atau al-ardh bumi, dan lingkungan sebagai ruang kehidupan, al-bi’ah, dapat dikatakan bahwa konsep lingkungan hidup menurut al-Qur’an adalah lingkungan dalam arti luas yakni meliputi lingkungan alam planet bumi, ruang angkasa dan angkasa luar. Lingkungan dipahami bukan hanya meliputi lingkungan hidup manusia, melainkan lingkungan hidup seluruh spesies baik yang ada di ruang bumi maupun di ruang angkasa bahkan yang ada di ruang angkasa luar. Sebab pada kenyataannya, keseimbangan ekosistem di ruang bumi juga memiliki berhubungan dengan ekosistem di luar ruang bumi. Oleh karena itu, menurut ajaran agama Islam manusia wajib menjaga kelestarian daya S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 104 dukung lingkungan bukan saja dalam lingkungan planet bumi, melainkan juga di angkasa luar serta di luar angkasa [4]. Konsep Islam tentang lingkungan dalam pengertian luas merupakan upaya untuk merevitalisasi misi asal ekologi. Misi asal ekologi adalah untuk mengkaji keterhubungan timbal balik antar komponen dalam ekosistem. Dalam hal ini tidak terbatas hanya komponen manusia dan ekosistemnya, melainkan seluruh komponen dalam ekosistem. Dengan demikian, visi Islam tentang lingkungan adalah visi lingkungan yang utuh menyeluruh, holistik integralistik. Visi lingkungan yang holistik integralistik diproyeksikan mampu menjadi garda keseimbangan ekosistem. Sebab seluruh komponen dalam ekosistem diperhatikan kepentingannya secara proporsional tidak ada yang dipentingkan dan tidak ada pula yang diterlantarkan oleh visi lingkungan Islam yang holistik integralistik. Secara ekofilosofis hubungan manusia dengan lingkungan terdapat keterhubungan, keterkaitan dan keterlibatan timbal balik yang tidak dapat ditawar. Lingkungan dan manusia terjalin sedemikian erat antara satu dengan yang lain. Sehingga manusia tanpa keterjalinannya dengan lingkungan tidak dapat dibayangkan dan tidak dapat pula dipikirkan bahkan tidak ada. Keterjalinan manusia dengan lingkungan adalah bersifat dinamis. Maksudnya, keterjalinan manusia dengan lingkungan merupakan keterjalinan sadar yang dihayati dan dijadikan sebagai akar serta inti kepribadiannya. Keterjalinan timbal balik manusia dengan lingkungan bukan bersifat statis. Dalam arti keterjalinan manusia dengan lingkungan bukan bersifat deterministis yang harus diterima apa adanya, tetapi bersifat suka rela yang dapat dipikirkan. Keterjalinan hubungan tersebut bukan pula bersifat verbalistis tanpa makna, tetapi bersifat reflektif penuh arti. Keterjalinan manusia dengan lingkungan merupakan upaya pencarian jati diri manusia. Hal ini disebabkan karena manusia ada dalam lingkungan [4]. Ekoteologi Islam memiliki konsep yang berbeda dengan konsep ekologis tentang hubungan struktural antara manusia dengan lingkungan. Konsep Islam tersebut dirumuskan dalam sistem teologi yang disebut dengan teologi proporsional. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat juga seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab, kemudian kepada tuhanlah mereka dihimpunkan QS. al-An’am 38. Pesan ekoteologis ayat ini terdapat pada kalimat yang semakna dengan “Seluruh komunitas dalam ekosistem merupakan satu keluarga ekosistem. Komunitas manusia dengan komunitas flora dan fauna merupakan komunitas bersaudara”. Dengan demikian, bahwa manusia bukan milik lingkungan dan ingkungan juga bukan milik manusia. Oleh karena itu, manusia merupakan bagian integral dari ekosistem. Manusia merupakan saudara ekologis sesama komponen lingkungan dalam ekosistem. Refleksi teologis dari landasan spiritual ini dinyatakan bahwa salah satu pilar keyakinan manusia adalah “Sesungguhnya manusia merupakan salah satu komponen ekosistem sebagai bagian integral dari lingkungan. Manusia dan lingkungan merupakan satu kesatuan ekologis sebagai karya cipta ilahi rabbi yang memiliki interdependensi dan interkorelasi cukup ketat” [4]. Dalam al-Qur’an Allah menyatakan bahwa alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 105 Dan dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, sebagai rahmat daripadanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir QS. al-Jatsiyah 13. Ayat inilah yang menjadi landasan teologis pembenaran pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Meskipun Islam tidak melarang memanfaatkan alam, Islam menetapkan aturan mainnya. Agama Islam memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan alam dengan cara yang baik ihsan dan menjadi manusia bertanggung jawab dalam melindungi alam dan lingkungan serta larangan merusaknya. Manusia sebagai khalifah Allah salah satu tugasnya membuat bumi ini makmur. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia. Dalam Islam, hak mengelola alam tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk memelihara kelestariannya. Banyaknya ayat al-Qur’an yang membicarakan larangan merusak bumi mengindikasikan kewajiban umat Islam untuk memelihara kelestarian dan keasrian bumi. Menurut M. Quraish Shihab, etika pengelolaan lingkungan dalam Islam mencari keselarasan dengan alam sehingga manusia tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tapi menjaga lingkungan dari kerusakan. Setiap perusakan lingkungan haruslah dilihat sebagai perusakan terhadap diri sendiri. Lanjut Shihab, berbeda dengan sikap sebagian teknokrat yang memandang alam sebagai alat untuk mencapai tujuan konsumtif. Tuntunan moral Islam dalam mengelola alam adalah larangan serakah dan menyia-nyiakannya. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan QS. al-A’raf 31. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya QS. al-Isra’ 27. Larangan berlebihan dalam QS. al-A’raf 31 diatas mencakup segala sesuatu, termasuk memanfaatkan alam. Alam dimanfaatkan seperlunya. Eksploitasi terhadap alam yang mengakibatkan rusaknya habitat alam dilarang Islam. Agama Islam memandang pemanfaatan alam semesta tanpa metode dan membabi-buta merupakan sebuah bentuk kezaliman dan akan merugikan manusia sendiri. Berlebih-lebihan dalam memanfaatkan alam dipandang sebagai perilaku mubazir dan dicela oleh Islam. Menurut syeikh al-Qardhawi, penamaan surat-surat al dengan mengambil nama hewan al-Baqarah sapi, al-An’am binatang al-fil gajah, al-Adiyat kuda, al-Naml semut, al-Nahl lebah, dan al-Ankabut laba-laba, nama tumbuh-tumbuhan seperti at-Tin sejenis tumbuhan dan al-Hadid tambang, atau nama alam lainnya seperti ad-Dzariyat angin yang menerbangkan sesuatu, an-Najm bintang, al-Fajr fajar, asy-Syams matahari, al-Lail malam, adh-Dhuha waktu dhuha, al-Ashr sore, dan sebagainya adalah isyarat agar manusia sadar bahwa dirinya terikat dengan alam sekitar, sehingga manusia tidak lalai menjalankan kewajiban menjaga kelestarian alam. Pentingnya memelihara alam juga tercermin dari pidato Abu Bakar di depan angkatan perang kaum muslim saat akan berangkat untuk menggempur raja Ghassani S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 106 yang telah memerintahkan pembunuhan atas utusan Nabi Muhammad di masa-masa akhir hidupnya. Abu Bakar dalam pidatonya melarang pembunuhan terhadap anak-anak dan orang tua, merusak dan membakar pohon kurma, dan menebang pohon-pohon yang berbuah. Menurut ajaran Islam, manusia dalam mengelola dan memanfaatkan alam harus bersikap arif. Maksudnya mengelola dan memanfaatkan alam jangan sampai merusak habitat alam. Mengelola alam harus diiringi dengan usaha-usaha untuk melestarikannya. Dalam sebuah ayat Allah menyatakan bahwa seluruh langit dan bumi serta makhluk di dalamnya bertasbih memuji Allah. Manusia harus senantiasa menghormati alam karena ia adalah makhluk Allah yang senantiasa bertasbih kepadanya QS. at-Tagabun 1, QS. al-Jum’ah 1, QS. as-Saf 1, QS. al-Hasyr 1. Manusia harus mengiringi alam bertasbih memuji Allah, antara lain memelihara kelestarian alam dan mengarahkannya kearah yang lebih baik, dan bukan melakukan perusakan di muka bumi. Islam membolehkan pengelolaan bumi dan pemanfaatannya dengan syarat menjaga kelestarian dan keberlangsungannya [7]. Krisis linkungan yang tengah terjadi sekarang adalah akibat kesalahan manusia menanggapi persoalan ekologinya. Akar dari sumber krisis lingkungan manusia sangat dipengaruhi oleh keyakinan tentang alam dan takdirnya yaitu oleh agama [8]. C. Manusia, Lingkungan, dan Alam Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah untuk tinggal di bumi, beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungannya dengan masa dan relung waktu terbatas. Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan QS. al-Baqarah 36. Kediaman di muka bumi diberikan Allah kepada manusia sebagai suatu karunia yang harus disyukuri. Manusia wajib memeliharanya sebagai suatu amanah. Manusia telah diberitahu oleh Allah bahwa mereka akan hidup di bumi dalam batas waktu tertentu. Oleh karena itu manusia dilarang keras berbuat kerusakan. Begitu pun dalam mencari nafkah dan rezeki di atas muka bumi, Allah telah menggariskan suatu akhlak dimana perbuatan pemaksaan dan kecurangan terhadap alam sangat dicela. Kenikmatan dunia dan akhirat dapat dikejar secara seimbang tanpa meninggalkan perbuatan baik ihsan dan menghindarkan kerusakan di muka bumi. Mayoritas bencana yang terjadi, kebanyakan disebabkan perbuatan manusia. Sedikit sekali bencana yang diakibatkan oleh alam, misalnya gempa bumi atau gunung meletus yang merupakan suatu siklus alam yang memang tidak dapat dihindari oleh manusia.                               Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi dan S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 107 berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan QS. al-Qashash 77. Kerusakan lingkungan pada saat ini semakin bertambah parah. Kelalaian dan dominasi manusia terhadap alam dan pengelolaan lingkungan yang tidak beraturan membuat segala unsur harmoni dan sesuatu yang tumbuh alami berubah menjadi kacau dan sering berakhir menjadi bencana. Tiga dasawarsa terakhir menyaksikan Indonesia menggantungkan hidup dan perekonomiannya pada kesuburan sumber daya alam SDA yang melimpah misalnya, minyak bumi, batu bara, tembaga, emas, dan timah. Ketergantungan ini menguras isi perut bumi kemudian menyisakan lobang-lobang raksasa, pencemaran udara dan air, serta sisa galian yang memerlukan biaya pengembalian alam restorasi yang tidak sedikit. Sementara itu, di atas permukaan bumi, pembabatan hutan alam terus terjadi. Ini dapat dijumpai di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Kerugian akibat kerusakan lingkungan yang diderita manusia terwujud dalam bermacam bentuk. Tanah longsor, pencemaran udara, tanah dan air, banjir, kepunahan spesies flora dan fauna, dan seterusnya. Awal Desember 2000, di Padang Sumatera Barat misalnya terjadi sebuah bencana terbesar sepanjang sejarah propinsi. Tanah longsor, banjir dan air bah yang disebut galodo menelan 111 korban jiwa serta kerugian financial. Akibat bencana ini, banyak fasilitas umum seperti tempat ibadah yang tidak dapat lagi difungsikan. Kerugian ditaksir mencapai angka Rp 302 milyar. Kerusakan itu sudah tentu merupakan bencana akibat adanya perubahan ekosistem yang tidak bersahabat dengan alam. Manusia telah mengubah alam karena eksploitasi terhadap hutan sebagai sumber pendapatan, penambangan dan seterusnya. Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia telah mencatat sejarah kehancuran alamnya karena ketidak pedulian umatnya terhadap lingkungan alamnya [8]. Walaupun setiap individu manusia cenderung lebih merasakan hidup di tengah tatanan lingkungan yang lebih kecil dari keseluruhan bumi. Perhatian kita sebagai individu lebih tertuju pada tatanan lingkungan yang terbatas ukuran Negara, provinsi atau kabupaten, bahkan lebih kecil lagi sebatas luas kecamatan atau desa sendiri. Namun tidak menjadi soal seluas apa lingkungan hidup yang kita ketahui isi dan cirinya, harus selalu disadari bahwa keseluruhan bumi diciptakan Allah sebagai satu kesatuan alam yang utuh sebagai tempat hidup manusia dan makhluk tuhan lainnya secara keseluruhan. Apa yang diperbuat dilingkungan akan berpengaruh pada lingkungan sekitar, dan akan berpengaruh pada lingkungan orang lain dan bangsa lain. Bumi merupakan kesatuan lingkungan hidup yang amat luas permukaannya diperkirakan seluas 510 juta Ha, tapi dengan permukaan tanah hanya 153 juta Km persegi atau juta Ha. Suatu desa tempat tinggal hanya merupakan luasan lingkungan hidup yang amat kecil jika dibandingkan dengan bumi sebagai suatu tatanan lingkungan hidup yang besar. Suatu perbuatan negatif ataupun positif oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap lingkungan hidupnya dalam batasan luasan yang kecil sekalipun, akan membawa pengaruh kepada tatanan lingkungan hidup orang lain yang dekat maupun jauh. Cepat atau lambat secara akumulatif akan berpengaruh pula kepada bumi sebagai suatu kesatuan S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 108 lingkungan hidup umat manusia serta makhluk Allah selain manusia [1]. Pemeliharaan lingkungan hidup merupakan penentu keseimbangan alam. Dalam konteks pelestarian lingkungan, pemahaman ini sudah kita dengar sejak lama. Bahkan, pelajaran ilmu alam seolah tidak henti-hentinya mengajarkan bahwa semua komponen ekosistem, baik berwujud makhluk hidup maupun komponen alam lainnya, merupakan sebuah kesatuan yang harus berjalan seimbang dan tidak boleh timpang satu dengan yang lain. Manusia harus banyak mengkaji serta mempertanyakan efektivitas hasil dari hal-hal tersebut. Tentu setelah semuanya disadari, manusia wajib melakukan instrospeksi atas berbagai potret bencana yang terjadi di belahan bumi belakangan ini [9]. Allah menggariskan takdirnya atas bumi, pertama kalinya dengan memberikan segala fasilitas terbaik bagi semua penghuni bumi. Diciptakanlah lautan yang maha luas dengan segala kekayaan di dalamnya. Air hujan yang menghidupkan bumi setelah masa-masa keringnya. Belum cukup dengan itu semua, Allah memperindah kehidupan di muka bumi dengan menciptakan hewan, tumbuhan, angin dan awan di angkasa, sebagai teman hidup manusia. Setelah selesai dengan segala penciptaannya, Allah hanya memberikan sebuah amanah kepada manusia                 Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut tidak akan diterima dan harapan akan dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. al-A’raf 56 [9] PENUTUP Simpulan Bumi merupakan kesatuan lingkungan hidup yang amat luas permukaannya diperkirakan seluas 510 juta Ha, tapi dengan permukaan tanah hanya 153 juta Km persegi atau juta Ha. Suatu desa tempat tinggal hanya merupakan luasan lingkungan hidup yang amat kecil jika dibandingkan dengan bumi sebagai suatu tatanan lingkungan hidup yang besar. Suatu perbuatan negatif ataupun positif oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap lingkungan hidupnya dalam batasan luasan yang kecil sekalipun, akan membawa pengaruh kepada tatanan lingkungan hidup orang lain yang dekat maupun jauh. Cepat atau lambat secara akumulatif akan berpengaruh pula kepada bumi sebagai suatu kesatuan lingkungan hidup umat manusia serta makhluk Allah selain manusia. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia. Dalam Islam, hak mengelola alam tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk memelihara kelestariannya. Banyaknya ayat al-Qur’an yang membicarakan larangan merusak alam mengindikasikan kewajiban umat Islam untuk memelihara kelestarian dan keasrian lingkungan dan alam. DAFTAR PUSTAKA [1] Said Agil Husin al-Munawar dkk.. 2001. Islam Humanis Islam dan Persoalan Kepemimpinan, Pluralitas, Lingkungan Hidup, Supremasi Hukum, dan Masyarakat Marginal. Jakarta Moyo Segoro Agung. S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 51 2019 109 [2] Nasruddin Razak. 1973. Dienul Islam. Bandung al-Ma’arif. [3] M. Thalhah dan Ahmad Mufid. 2008. Fiqih Ekologi Menjaga Bumi Memahami Makna Kitab Suci. Yogyakarta Total Media. [4] Mujiono Abdillah. 2001. Agama Ramah Lingkungan Persfektif al-Qur’an. Jakarta Paramadina. [5] Pius A partanto. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya Arkola. [6] Ali Yafie. 1994. Menggagas Fiqih Sosial dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi Hingga Ukhuwah. Bandung Mizan. [7] Najmuddin Ramly. 2007. Islam Ramah Lingkungan Konsep dan Strategi Islam Dalam Pengelolaan, Pemeliharaan, dan Penyelamatan Lingkungan Hidup. Jakarta Grafindo Khazanah Ilmu. [8] Fachruddin M. Mangunjaya. 2005. Konservasi Alam Dalam Islam. Jakarta Yayasan Obor Indonesia. [9] Fachruddin M. Mangunjaya dkk.. 2007. Menanam Sebelum Kiamat Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup. Jakarta Yayasan Obor Indonesia. ... An-Nahl ayat 41 serta Qs. Al-Ankabut ayat 58, yang mana dari derivasinya terdapat kata al-bi'ah yang berkonotasikan lingkungan sebagai ruang kehidupanAhmadiy, 2015. a. Qs. ...Dienul Islam. Bandung al-Ma'arifNasruddin RazakNasruddin Razak. 1973. Dienul Islam. Bandung al-Ma' Ramah Lingkungan Persfektif al-Qur'anMujiono AbdillahMujiono Abdillah. 2001. Agama Ramah Lingkungan Persfektif al-Qur'an. Jakarta PiusPartantoPius A partanto. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya Fiqih Sosial dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi Hingga UkhuwahAli YafieAli Yafie. 1994. Menggagas Fiqih Sosial dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi Hingga Ukhuwah. Bandung Alam Dalam IslamM FachruddinMangunjayaFachruddin M. Mangunjaya. 2005. Konservasi Alam Dalam Islam. Jakarta Yayasan Obor Sebelum Kiamat Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan HidupM FachruddinMangunjayaFachruddin M. Mangunjaya dkk.. 2007. Menanam Sebelum Kiamat Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup. Jakarta Yayasan Obor Indonesia. Dalam Islam, manusia memiliki derajat yang tinggi dalam kaitannya dengan makhluk lain di bumi. Manusia menjadi subjek yang aktif dibanding hewan, tumbuhan, air, tanah, udara, api, dan benda lainnya. Manusia dapat mengelola semuanya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Manusia memiliki diangkat sebagai khalifah yang mengemban amanah dalam merawat dan melestarikan bumi seisinya sebagai anugerah Allah SWT. Al-Baqarah ayat 30. Dalam kaitannya dengan akhlak terhadap lingkungan, manusia dituntut untuk berinteraksi dengan baik. Manusia memiliki tanggung jawab pada pelestarian dan pemeliharaan lingkungan hidup. Bahkan, inti dari risalah Nabi Muhammad SAW atau agama Islam adalah berkasih sayang terhadap alam semesta. Al-Anbiya ayat 107. Dengan demikian, perilaku umat Islam menjadikan kasih sayang terhadap alam semesta termasuk pelestarian lingkungan sebagai orientasi beragama mereka. Umat Islam dalam bentuk yang konkret berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan ekosistem baik di darat maupun di laut. Umat Islam menanggung amanah yang besar dalam menjaga kualitas air, kesegaran udara, kebersihan tanah, dan bahkan memelihara suasana dari polusi suara. KH Ali Yafie, Merintis Fiqih Lingkungan Hidup, [Jakarta, Ufuk 2006]. Kerusakan alam dan pencemaran lingkungan memberikan dampak buruk bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Kerusakan alam dan pencemaran lingkungan tidak hanya mengenai pelaku, tetapi juga berimbas pada semua makhluk hidup. Adapun dampak kerusakan alam dan pencemaran lingkungan akan dirasakan oleh manusia itu sendiri. Surat Ar-Rum ayat 41 menyebutkan, "Kerusakan alam di darat dan di laut telah tampak karena perbuatan tangan manusia agar Allah menimpakan dampak kerusakan alam akibat sebagian perbuatan mereka agar mereka kembali." Adapun lingkungan hidup atau al-bi’ah didefinisikan sebagai sebuah kawasan geografis di mana kita hidup dan berdiam di dalamnya atau sebuah kawasan dengan unsur hayati dan kandungan alam yang terdiri atas unsur manusia dan peradaban. Nuruddin Mukhtar Al-Khadimi, Fiqhunal Mu’ashir, [Mesir, Darus Salam 2015 M]. Menurut Al-Khadimi, perhatian terhadap lingkungan dalam Islam tampak pada nash dan maqashidus dan qaidah syariah tujuan dan kaidah dari risalah Islam. perhatian terhadap lingkungan hidup tampak pada nash-nash dan dalil agama yang sangat spesifik juz’i baik berupa ayat Al-Qur’an, hadits dan sunah nabi, dan kajian-kajian ilmiah dalam Islam yang berkaitan dengan manusia dan binatang, darat dan laut, angkasa dan kawasan darat. Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW baik secara eksplisit maupun implisit mengandung amanah bagi manusia untuk menjaga lingkungan hidup. Surat Al-A’raf ayat 65 memerintahkan manusia untuk memakmurkan, menjaga, dan mengolah bumi sesuai kebutuhan dengan meminimalisasi dampak kerusakannya. Sedangkan pada Surat Al-Qashash ayat 77 mengingatkan manusia agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Perusakan alam dalam Surat Al-Qashash ayat 77 merupakan tindakan yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Adapun tujuan dasar syariat atau risalah merupakan hifzhul hayat atau menjaga kelestarian kehidupan. Tujuan ini dapat tercapai melalui pelestarian alam dan pemeliharaan terhadap lingkungan. Sedangkan perusakan alam dan pencemaran lingkungan berdampak pada kualitas dan daya dukung lingkungan di mana manusia tinggal dan berdiam. Perusakan alam dan pencemaran lingkungan akan menurunkan bahkan merusak kualitas pangan, air, dan udara yang menjadi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk hidup dharuri. Manusia sebagai makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa lingkungan yang bersih dan tidak tercemar sebagai daya dukung yang memadai. Akhlak kepada Hewan Kalau Islam tidak memperbolehkan seorang muslim untuk berbuat buruk dan menyakiti non-Muslim, Islam juga berpesan agar berbagi kasih sayang kepada segala makhluk bernyawa dan melarang mereka untuk bersikap kasar terhadap hewan. Sejak 13 abad lalu, Islam menganjurkan umat manusia untuk bersikap ramah terhadap hewan. Kasih sayang terhadap binatang merupakan salah satu cabang keimanan. Tindakan zalim dan menyakitkan hewan dapat mengantarkan umat Islam ke dalam neraka dan membuat murka Allah. Rasulullah SAW pernah menceritakan seorang yang mendapati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia kemudian turun ke sumur untuk mengambil air dan memberikan minum anjing kehausan tersebut sehingga terpenuhi hajatnya. "Allah berterimakasih dan memberikan ampun kepada orang tersebut," kata Rasulullah. "Apakah menyayangi binatang juga berpahala ya Rasulullah?" tanya sahabat. "Pada setiap limpa yang basah terdapat pahala," kata Rasulullah. HR Bukhari. Pada riwayat Bukhari, Rasulullah SAW menceritakan seorang wanita yang menyiksa kucing karena menahannya tanpa memberikannya makan. Wanita tersebut kemudian dimasukkan ke dalam neraka. Sedangkan riwayat Muslim menceritakan, suatu hari Rasulullah SAW melihat seekor keledai yang wajahnya ditandai dengan besi panas. Pada hadits riwayat Abu Dawud, ketika menyaksikan wajah seekor keledai ditandai dengan besi panas, Rasulullah mengatakan, "Apakah belum sampai kepada kalian bahwa aku melaknat orang yang menandai binatang pada wajahnya dan memukul wajah binatang?" Sebuah riwayat menyebutkan, sahabat Ibnu Umar RA melihat sejumlah orang menjadikan ayam hidup sebagai bulan-bulanan latihan panah. Ia mengatakan, "Sungguh, Nabi Muhammad SAW melaknat orang yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran tembak." Sedangkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi meriwayatkan sahabat Ibnu Abbas SAW yang mengatakan, "Rasulullah SAW melarang manusia mengadu domba binatang." Al-Bazzar dengan sanad yang sahih meriwayatkan Ibnu Abbas RA yang mengatakan, "Rasulullah SAW melarang keras manusia mengebiri binatang." Ulama dari Mazhab Syafi’i, Izzuddin bin Abdissalam, dalam karyanya, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, membahas hak-hak binatang. Menurutnya, pemenuhan hak binatang merupakan bagian dari upaya penciptaan maslahat dan penolakan mafsadat dar’ul mafasid wa jalbul mashalih yang menjadi pijakan agama Islam. "Jenis ketiga yang masuk kategori kedua dalam rangka mendatangkan maslahat dan menolak mafsadat adalah kewajiban manusia dalam menjaga hak binatang ternak dan hewan. Manusia wajib menafkahi dengan pantas binatang tersebut seandainya binatang itu sakit dan tidak dapat diambil manfaatnya; tidak boleh membebaninya dengan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukannya; tidak mengumpulkannya dengan hewan sejenis atau hewan jenis lain yang dapat menanduk, memecahkan, atau melukainya; harus menyembelih dengan cara terbaik bila ingin menyembelihnya; tidak mengoyak kulitnya, tidak boleh mematahkan tulangnya sehingga melemahkan dan menghilangkan daya hidupnya, tidak boleh menyembelih anaknya di hadapannya, tidak boleh mengisolasinya, harus menyiapkan alas terbaik untuk dia duduk mendeku; mengumpulkan jantan dan betina pada musim kawin; tidak boleh membuang hasil buruannya; tidak boleh melemparnya dengan alat keras yang dapat mematahkan tulangnya; atau melempar/membenturkannya dengan benda yang tidak membuat halal dagingnya," Izzuddin bin Abdissalam, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah 2010 M], juz I, halaman 112. Alhafiz Kurniawan

lingkungan di sekitar kita adalah amanah allah yang harus